NETTI NATARIDA MARPAUNG

WELLCOME TO MY BLOG..

I'M A DREAMER, AND I WANNA MAKE MY DREAMS COME TRUE.

Sabtu, 07 Juni 2014

RINGKASAN NOVEL


KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH

Karya    : Tere Liye


PROLOG

Borno adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya di tepian sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Ayahnya telah lama meninggal saat Borno berusia 12 tahun. Dulu ayahnya adalah seorang nelayan tangguh terjatuh dari perahu saat melaut dan tersengat belalai ubur-ubur yang sangat mematikan. Namun sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bapak Borno yang terkenal sangat baik hati telah menyetujui untuk mendonorkan jantungnya kepada seorang pasien yang mempunyai seorang gadis kecil seumuran Borno saat itu.

Koh Acong, adalah pemilik toko kelontong yang menghadap persis Sungai Kapuas. Soal berhitung cepat, mencongak, tak ada yang mengalahkan Koh Acong. Kalkulator besar milik pedagang kota sekalipun kalah cepat dengan kelihaian Koh Acong dalam berhitung.

Cik Tulani, yang masih terhitung paman jauh Borno adalah seorang pemilik warung makan yang terkenal sangat perhitungan alias pelit.

Pak Tua, adalah orang tua yang bijaksana yang pekerjaan sehari-harinya adalah tukang Sepit. Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter dengan tempat duduk melintang dan bermesin temple. PenduduK kota yang ingin menyeberang Sungai Kapuas lebih memilih menumpang sepit, karena labih cepat dibanding naik bus atau opelet yang akan memutar jauh lewat jembatan Kapuas yang mahal dan tidak praktis.

BAB. 1
RIWAYAT PEKERJAANKU

Pekerjaan pertama Borno lulus SMA dua tahun yang lalu adalah menjadi seorang buruh di pabrik karet yang sangat bau, namun pemilik pabrik memperlakukan mereka (karyawan) dengan baik. Gaji oke, ada pemeriksaan kesehatan dan terkadang ada makan siang gratis di kantin pabrik. Sayang Borna hanya enam bulan bekerja di sana, Borno dipecat bersama ratusan karyawan lain.

Kemudian Borno memberanikan diri melamar pekerjaan di kantor syahbandar Pontianak. Sayangnya syahbandar tersebut tidak menerima pekerja yang hanya lulusan SMA. Ditolak, Borno kecewa, tapi syahbandar tersebut merujuk Borno untuk melamar di Feri Kapuas, “Besok pagi kau pergi ke sana, tadi aku menghubungi kepala operasional Feri Kapuas, mereka bisa menampung engkau,” ucap syahbandar itu pada Borno.

Esok harinya saat Borno hendak berangkat menuju Feri Kapuas, Bang Togar yang adalah sahabat dekat almarhum ayahnya dulu melarang keras Borno untuk melamar pekerjaan di Feri Kapuas dengan alasan Feri Kapuas itu telah mematikan mata pencaharian pengemudi-pemgemudi sepit dengan menampung banyak penumpang yang akan menyeberang sungai Kapuas.

BAB. 2
PELAMPUNG VS SEPIT

Hadirnya jembatan beton di kota Pontianak sedikit banyaknya mengurangi kehebatan sepit. Meski kabar baiknya jembatan itu dibangun di hulu, bukan persis di pusat kota. Namun di luar jembatan beton itu masih ada yang menjadi pesaing sepit, apalagi kalau bukan pelampung. Benar, pelampung inilah yang membuat bang Togar mencak-mencak mendengar kabar Borno diterima bekerja di dermaga feri. Satu pelampung itu, sekali jalan, menghabiskan penumpang untuk dua puluh sepit. Itulah alasannya kenapa bang Togar tidak suka Borno bekerja di dermaga feri. Penduduk kota terbiasa menyebut feri dengan pelampung.

BAB. 3
WASIAT BAPAK

Almarhum bapak Borno punya wasiat dulu, saat itu Borno pulang menemani bapaknya melaut seharian, badan gosong, bibir mengelupas, rambut kering bercampur butir garam, ketika melintas memasuki mulut sungai Kapuas, lamat-lamat bapaknya berkata, “Jangan pernah jadi nelayan seperti bapakmu ini, jangan pernah jadi pengemudi sepit.” Namun atas penjelasan bijak Pak Tua, Cik Tulani, Koh Acong, akhirnya Borno memutuskan akan memulai kehidupan sebagai pengemudi sepit, meski melanggar wasiat bapaknya Borno berjanji akan jadi orang baik meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit. Borno belajar mengemudi sepit dibimbing oleh Pak Tua.

BAB. 4
SEPIT BORNEO

Dua hari terakhir di penghujung kursus mengemudi sepit Borno bertanya kapada Pak Tua, sepit siapakah yang akan dia bawa nantinya, “Tak usah cemas, paling sial kau bawa sepit milikku, Borno.” Kata Pak Tua
Akhirnya tiba hari kelulusan Borno, pagi sekali dia sudah berangkat ke dermaga, dermaga dengan cepat dipenuhi penumpang bunyi suara sepit mengetem, merapat, dan meluncur dari dermaga memenuhi langit, ditingkahi teriakan petugas timer mengatur perahu dan penumpang.
Akhirya tiba giliran perahu Pak Tua, Borno mengemudikan sepit merapat ke dermaga. Dua belas penumpang segera menaiki perahu, ada seorang penumpang duduk persis di haluan depan, memunggungi buritan, rambutnya tergerai panjang, seperti keturunan Melayu Pontianak, dan inilah asal muasal seluruh cerita.

Dengan berhasil membawa penumpang bolak-balik menyberangi sungai Borno resmi sudah menjadi pengemudi sepit. Di dermaga sudah ada Cik Tulani, Koh acong, Pak Tua juga pengemudi lain. Dengan tiba-tiba bang Togar menunjuk dan menyerahkan sebuah sepit baru kepada Borno, bang Togar mengumpulkan sumbangan kepada penduduk dan juga pengemudi untuk membeli sepit baru tersebut. Di lambung perahu tertulis hebat sebuah kata, “BORNEO.”
Perayaan kecil penyambutan sepit baru Borno selesai. Tiba-tiba petugas timer meneriaki Borno, ada barang penumpang tertinggal di sepit, yang ditemukan di bangku paling depan, barang itu adalah surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama.

BAB. 5
BARANG YANG TERTINGGAL DI SEPIT

Borno berpesan kepada petugas timer dermaga sepit, jika bertemu dengan gadis cina berbaju kuning itu, supaya memberitahukan tentang surat bersampul merah yang tertinggal dalam sepit. Dan saat Borno istirahat sembari menunggu giliran, seorang pengemudi sepit meneriaki bahwa petugas timer dermaga seberang titip pesan pada Borno tentang gadis berbaju kurung itu, secepat kilat sepit Borno menuju dermaga sepit seberang.

BAB. 6
PERTEMUAN PERTAMA

Gadis itu masih dengan sisa amplop merah di tangan, beranjak kesana kemari terus membagikan angpau. Jadi benda penting yang tertinggal di sepit ternyata hanya amplop angpau.
Seminggu berlalu, aktivitas gadis itu tiba di dermaga kayu pukul 7.15, menyeberang. Gadis itu selalu berpakaian rapi, membawa payung, dengan tas dipenuhi buku tersampir di pundak, tampaknya pekerjaan gadis itu adalah guru.
Hari ketujuh, gadis itu tidak terlihat di dermaga sepit, ada apa gerangan, apakah gadis itu sakit? Oh ternyata ini hari Minggu.

BAB. 7
TURIS DARI KUCHING DAN ISTANA KADARIAH

Bangun pagi yang pertama kali dilakukan Borno adalah mengantri sepit, ada seorang gadis yang sangat menarik perhatiannya akan naik sepit pagi itu. Borno tidak memperdulikan pesan bapak Andi bahwa hari ini Borno diminta untuk membawa rombongan turis dari Serawak. Andi marah-marah, namun Borno senyum-senyum tidak peduli, bagi Borno bertemu dengan gadis berbaju kurung itu lebih penting dari segalanya.

BAB. 8
NAMAKU MEI, ABANG

“Boleh aku tahu siapa nama gadis itu?” kata Pak Tua suatu waktu. Borno terdiam karena memang dia belum tahu nama gadis itu.
“Kamu tahu, Pak Tua bahkan punya kenalan dengan dua belas anak, namanya mulai dari Januari, Februari, Maret hingga November. Ada-ada saja,” Borno berusaha member contoh lucu sembari bertanya nama gadis itu.
“Namaku Mei, Abang.” Gadis itu beranjak berdiri. “Meskipun itu nama bulan kuharap abang tidak menertawakannya.” Alamak, Borno ternganga di buritan perahu.

BAB. 9
PERPISAHAN PERTAMA

Borno sudah berjanji ingin mengajari Mei mengemudi sepit hari ini, namu karena Pak Tua sakit Borno membawa Pak Tua kerumah sakit dahulu, akhirnya Borno terlambat. Karena gadis itu tidak lagi Borno temui di istana Kadariah tempat mereka janji bertemu, Borno merasa bersalah. Borno bersusah payah mencari alamat Mei, dan akhirnya ketemu juga, namu pada saat itu Mei hendak berangkat ke Surabaya.

BAB. 10
TETAP SEMANGAT, ABANG

Apa kata Mei dua bulan lalu saat dia pergi? “Tetap semangat menarik sepit, Abang.” Borno janji akan terus semangat meskipun menghadapi penumpang yang membawa kambing sekalipun.

BAB. 11
PETUAH CINTA ALA PAK TUA

Hari kelima belas, Pak Tua boleh pulang. Kepulangan Pak Tua bahkan menjadi kabar bahagia bagi pengemudi sepit, tetangga dan penumpang. Saat Borno seperti biasanya menemani Pak Tua, Pak Tua bercerita tentang hakikat cinta sejati.Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. Pak Tua mengakhiri kisahnya.

BAB. 12
MONTIR BENGKEL

Siang itu Borno mereparasi motor temple Pak Tua. Bapak Andi memberikan panduan motor temple sembari mengajari Borno tentang mesin di bengkel.
Setelah enam bulan sejak Mei pergi, Pak Tua ingin ke Surabaya melakukan terapi. Pak Tua meminta Borno menemaninya. Ke Surabaya, itu berarti bisa bertemu Mei, batin Borno.

BAB. 13
UANG RECEH DAN BUKU TELEPON

Hingga hari keberangkatan, Borno tidak kunjung tahu alamat Mei. Namun petuah Pak Tua, cinta sejati selalu menemukan jalan. Setiba di Surabaya, tepatnya di tempat balai pengobatan Pak Tua, sembari mengusir jenuh menunggu Pak Tua selesai berobat, Borno membuka-buka buku telepon yang ada di atas meja, lalu menelepon nama-nama yang bertuliskan Sulaiman, sesuai dengan nama yang disebut bibi yang bekerja di rumah Mei, berharap nama itu akan menghubungkannya dengan gadis itu.

BAB. 14
RUANG TUNGGU KLINIK ALTERNATIF

Hari kedua menemani Pak Tua. Sambil menunggu Pak Tua keluar dari ruangan terapi, Borno kembali mencoba menekan nomor telepon yang ada di buku telepon di atas meja itu. Namun tiba-tiba Borno dikejutkan oleh suara seseorang yang selama enam bulan terakhir ini membuat Borno menjadi seperti orang bodoh. Ya Mei, ternyata Mei juga sedang mengantar neneknya terapi di klinik itu. Pertemuan yang tidak disangka-sangka.

BAB. 15
JALAN-JALAN DI SURABAYA

Esok harinya janji pelisir kota. Mei mebawa Borno dan Pak Tua jalan-jalan keliling kota Surabaya. Sampai akhirnya Mei memperkenalkan Borno kepada papanya saat Borno mengantarkan Mei pulang. Papa Mei menyambut uluran tangan Borno seperti terpaksa.

BAB. 16
SATPAM RUMAH YANG GALAK

Terapi Pak Tua selesai suadah, Esok paginya lepas sarapan Borno membeli tiket pulang. Beres beli tiket Borno menuju gedung terapi menemui Mei untuk berpamitan.
Nampak wajah Borno seperti kurang semangat. Pak Tua mencoba menerka-nerka, apakah satpam di rumah Mei galak semalam? Satpam yang dimaksud Pak Tua adalah papanya Mei.

BAB. 17
KISAH CINTA BANG TOGAR

Bang Togar yang adalah ketua perkumpulan pengemudi sepit mempunya masalah pelik dalam rumah tangganya. Bang Togar yang sangat pencemburu tidak tahan manakala Unai sering dikunjungi teman-temannya. Unai menjalankan pekerjaan tenun-menenun di rumahnya. Tidak tahan dengan sikap bang Togar yang selalu marah-marah, Unia pindah ke rumah saudaranya. Lima tahun keluarga bang Togar tidak jelas ujung pangkalnya. Akhirnya berkat mediasi yang dilakukan kepada mertuanya Unai akhirnya bersedia rujuk kembali.

BAB. 18
TEMAN SEJATI

Borno yang sedang banyak pikiran, gelisah, dikerjai oleh Andi. Andi berkata kalau Mei, si gadis yang telah menyebabkannya gelisah sedang menunggunya di dermaga sepit, pontang-panting Borno menyusul ke dermaga sepit, namun apa dikata, Andi hanya berbohong. “Nah itulah tips terhebatnya. Andi justru membuktikan hanya teman terbaiklah yang nekat melakukan itu. Dia percaya kau tidak akan benar-benar marah padanya,” nasehat Pak Tua.

BAB. 19
KEJUTAN! MEI KEMBALI

“Tunggu sebentar, Borno,” petugas timer dermaga sepit berusaha menahan Borno, “Ada penumpang special kau hari ini,” lanjutnya.
Borno mengira orang yang ditunggu itu adalah bang Togar, ternyata tidak. Mei berjalan gemulai menuju dermaga membuat jantung Borno serasa berhenti berdetak. “Senang bertemu abang lagi,” sapa Mei.

BAB. 20
SEPOTONG COKLAT YANG TERTOLAK

Borno bercerita pada Andi masalah pertemuannya dengan Mei yang hanya 15 menit saja satu hari, menunggu 23 jm  45 menit. Itu mudah saja kata Andi, coba kau ajak dia jalan-jalan hari Minggunya. Ya sebagai permulaan, kasih dia hadaih coklat, kata Andi. Namun hadiah coklat sesuai saran Andi ditolak Mei dengan alasan dia harus sebagai teladan pada anak didiknya. Borno terdiam, lalu Mei menanyakan apakah besok Minggu Borno libur, Mei ingin diajak oleh Borno keliling kota Pontianak dengan naik sepit. Ah cinta selalu misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri, petuah Pak Tua.

BAB. 21
JANJI YANG TIDAK DIEPATI

Ini sudah setengah sepuluh, sudah ratusan kali mata Borno melirik ke gerbang dermaga, sudah ratusan kali pula Borno mendesah. Kenapa Mei belum datang? Bukankah dia selalu tepat waktu? Borno mengeluh , matahari semakin terik. Tidak ada, Mei tetap tidak ada. Akhirnya Borno pulang.

BAB. 22
DOKTER SARAH DAN KENANGAN LAMA

Adalah dokter Sarah, yang memeriksa gigi Andi. Pak Tua dan Borno membawa Andi berobat karena giginya sakit. Ternyata dokter Sarah adalah anak dari orang yang mendapat donor jantung dari bapaknya Borno sepuluh tahun silam.

BAB. 23
HADIAH BUKU SELALU SPESIAL

Ada kejutan besar di rumah Borno. Keluarga dokter Sarah datang berkunjung dari Surabaya. Keluarga dokter Sarah sudah sangat lama mencari tahu keberadaan keluarga orang baik hati yang menjadi donor jantung kepada ayahnya itu.
Saat berada di kamar Borno, dokter Sarah melihat deretan buku-buku di dalam kamar Borno. Kamar Borno seolah jadi perpustakaan. Satu buku paling menarik ditanyakan dokter Sarah pada Borno, yaitu buku hadiah dari Mei.

BAB. 24
TEMPAT DUDUK KOSONG DI SEPIT

Ini sudah hari ketujuh. Borno masih memaksakan diri antre di urutan tiga belas, tetap berharap Mei kembali naik sepit. Namun tetap saja tempat duduk yang dikhususkan untuk Mei itu kosong.
Borno menjual sepit “BORNEO” nya, karena Borno akan berkongsi dengan bapaknya Andi untuk membeli sebuah bengkel di perempatan jalan kota.

BAB. 25
BERBAIKAN

Mei datang ke rumah Pak Tua, bertanya perihal kenapa Borno menjual sepit. Saat Mei beranjak pulang tidak sadar buku PR anak muridnya tertinggal. Borno mengejar Mei dengan membawakan buku Mei yang tertinggal. Mereka bertemu di perempatan lampu merah. Jadilah Borno mengantarkan Mei pulang. Ternyata galau sepuluh hari terakhir itu terhapus dengan pertemuan yang hanya setengah jam itu.
Namun kabar buruk juga datang dari bengkel. Ternyata bengkel yang dibeli tersebut dijual oleh pemilik yang palsu. Seluruh peralatan bengkel modern itu diangkut oleh pemilik bengkel yang sah. Polisi terlihat berjaga-jaga di sana. Dunia belum kiamat Andi, suatu saat namamu dan namaku akan terkenal di bengkel seantero kota, kata Borno menguatkan Andi.

BAB. 26
BANGKIT KEMBALI DAENG

Karena kejadian kena tipu itu, bapak Andi jadi lebih sering duduk bengong di kantor bengkel. Terkadang dia tidak menyahut jika sedang ditegur. Namun sebulan terakhir bengkel banyak mengalami kemajuan berarti. Walaupun bengkel tidak memiliki peralatan canggih, namun bengkel BORNEO masih memiliki montir handal, itulah kunci sukses bengkel.
Siang itu Borno dikejutkan oleh kedatangan Mei di bengkel. Mei datang sambil membawakan makanan. Sungguh senang hati Borno.

BAB. 27
JAKET DAN STIKER

Borno dan Mei janjian akan plesiran kota Pontianak, dan jalan-jalan kali ini sukses, tidak seperti waktu janjian plesiran dulu yang gagal total. Bukan main senangnya hati Borno dan Mei.
Namun saat Borno mengantar Mei pulang, ada papanya Mei yang meminta Borno supaya meninggalkan anaknya, jangan pernah menemui Mei lagi, kata orang tua itu. Borno terdiam. Ini kali kedua Borno bertemu dengan satpam galak itu.

BAB. 28
BERHENTILAH MENEMUIKU

Siang itu Mei datang ke bengkel. alangkah senangnya hati Borno. Namun kedatangan Mei hanyalah untuk mengatakan agar Borno jangan menemuinya lagi. Dalam hati Borno tidak terima, kenapa..kenapa begitu Mei?

BAB. 29
TETAPI KENAPA?

Tidak mengerti mengapa Mei memintanya untuk tidak menemuinya,Borno menyusul Mei, ke sekolah tempat Mei mengajar juga ke rumah Mei. Berjam-jam Borno menunggu. Namun Mei tidak mau ditemui. Mei hanya menitipkan selembar kertas pada bibi yang bertuliskan, “Maafkan aku abang, seharusnya aku tidak pernah bertemu abang.”

BAB. 30
PESTA PERNIKAHAN

Hari ini dalah pesta pernikahan kakaknya Sarah. Sarah telah mempersiapkan baju-baju yang bagus kepada Borno dan keluarganya, agar nantinya mereka tidak canggung berada dalam pesta pernikahan yang diadakan di hotel berbintang itu.
Alangkah terkejutnya Borno, ternyata Mei juga datang ke pesta pernikahan itu bersama papanya. Namun tidak banyak yang bisa Borno lakukan. Bahkan untuk mengetahui jawaban kenapa Mei menghindarinya pun Borno tidak sempat bertanya.

BAB. 39
BERASUMSI DENGAN PERASAAN

“Apakah kau pernah menanyakan kalau Mei menyukai kau?” Tanya pak Tua saat Borno curhat padanya.
“Belum pernah Pak Tua.”
“Apakah Mei tahu kau menyukainya?” Tanya Pak Tua lagi.
“Entahlah Pak Tua.” Sahut Borno.
“Kalau memang Mei cinta sejati kau, mau semenyakitkan apapun, dia tetap akan bersama kau kelak. Langit sudah punya scenario terbaik. Lanjutkan hidup dengan perasaan riang. Boleh jadi jika dia tidak sanggup lagi menghindari kau, dia akan pergi. Tapi itu hanya asumsiku Borno,” Pak Tua menjelaskan.

BAB. 32
LOMBA BALAB SEPIT

Pada acara tujuh belas agustusan kali ini, Borno ikut memeriahkan lomba balap sepit yang berhadiah tropi bapak walikota. Bang Togar yang juara tahun lalu begitu menantangnya. Dan Sarah sang dokter gigi itu pun juga ikut lomba.

BAB. 33
PESAN SECARIK KERTAS

Begitulah setiap harinya, Borno selalu menyempatkan diri mengunjungi rumah Mei, berharap Mei mau menemuinya. Tetap saja Mei tidak muncul. Setiap kali Borno datang dan Mei tidak mau menemuinya, Borno selalu menitipkan pesan melalui secarik kertas kepada bibi, berharap Mei mau membalas pesannya.

BAB. 34
MEI MEMUTUSKAN PERGI

Tersengal-sengal bibi menemui Borno dengan menyerahkan secarik kertas. Mei hendak pergi ke Surabaya, sudah sejam yang lalu dia berangkat. Mai hanya menuliskan sebaris kalimat, “Abang aku pergi ke Surabaya, aku minta maaf.”
Borno segera mengejar ke bandara, tak peduli petugas timer yang meneriaki Borno mengatakan kalau pertandingan sudah akan dimulai. Mei lebih penting dari lomba itu. Lima belas menit Borno telah sampai di bandara. Borno berusaha menerobos petugas. Namun beberapa petugas tetap mencegatnya sampai akhirnya Borno dibawa ke ruang keamanan bandara. Tiba-tiba Mei muncul. Ternyata Mei sampai menunda keberangkatannya karena tadi Mei juga sempat mendengar teriakan Borno yang memanggil namanya di seantero bandara.
“Sebentar lagi saya akan berangkat abang, aku hanya menunda keberangkatan pesawat tadi untuk memastikan abang Borno tidak apa-apa, selamat tinggal abang.”
Mei tetap berangkat.

BAB. 35
HAMPIR ENAM BULAN MEI PERGI

Enam bulan ini Sarah banyak bercerita tentang masa kecilnya dengan Mei. Borno sampai hafal detail cerita mereka. Sarah bukanlah kesempatan baru bagi Borno, Meilah satu-satunya kesempatan yang pernah dia miliki, dan itu tidak akan terganti dengan siapapun.
Akhirnya Sarahlah yang memenangkan pertandingan sepit itu. Serta-merta Sarah melompat ke sepitnya Pak Tua yang ditinggalkan Borno dan berhasil memenangkan pertandingan itu.

BAB. 36
HAMPIR SETAHUN MEI PERGI

Sudah hampir sebelas bulan Mei tidak ada kabarnya. Borno hanya memiliki sebuah harapan kelak Mei akan memberikan penjelasan akan hubungan ini. Borno masih tetap menjadi pemuda berhati paling lurus sepanjang Kapuas dan tetap menjaga bengkel dengan baik. Borno juga akan mendaftar bulan depan di Universitas Pontianak untuk kelas ekstension jurusan teknik mesin. Semua itu Borno lakukan demi pesan Mei yang berkata agar Borno tetap semangat sampai akhirnya nanti kejelasan itu datang.

BAB. 37
KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH

Pasti ada kabar buruk. Bibi menemui Borno sampai ke loket sepulang mereka jalan-jalan de Kuching. Bibi mengatakan kalau nona Mei sakit. Bibi juga bertanya apakah Borno sudah membaca surat yang dia temukan dalam angpau merah saat pertama kali mereka bertemu di sepit?
Borno bergegas membongkar lemari pakaian tempat dia menaruh angpau merah tersebut. Membuka angpau itu dan membaca isinya. Ternyata dalam surat Mei, dia menceritakan jika ibunyalah yang melakukan operasi bedah jantung bapak Borno dulu. Ibunya sangat menyesal dan mengalami depresi berat sejak itu. Dan sakit itulah yang perlahan-lahan menyebabkan ibunya meninggal. Mei sungguh-sungguh ingin minta maaf kepada keluarga Borno dari almarhum ibunya yang tidak sempat meminta maaf. Itulah mengapa Mei memutuskan agar mereka tidak pernah bertemu lagi. Mei tidak ingin melukai hati Borno setelah semua kesalahan yang telah dilakukan oleh ibu Mei.
Borno gemetar, tidak menduga isi surat itu akan seperti itu. Malam itu Borno tidak bisa memicingkan mata walau sedetik.

EPILOG

“Aku berjanji, akan selalu mencintai kau, Mei. Bahkan walau anku telah membaca surat dalam angpau merah itu, tahu masa lalu yang menyakitkan, itu tidak akan mengubah apapun. Aku akan selalu mencintai kau, Mei”
Mei menangis bahagia mendengar kalimat itu.
Sejak hari itu tidak ada lagi sendu nan misterius di wajahnya. Dia sama riangnya dengan seluruh gadis Pontianak, tempat dia kembali mengajar.


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar